was successfully added to your cart.

MEMILIH YANG TERBAIK

MEMILIH YANG TERBAIK

Life is about choices meskipun ada hal-hal tertentu dalam hidup yang tidak bisa kita pilih. Kita tidak bisa memilih orangtua, keluarga kita. Di dalam organisasi pun kita biasanya tidak bisa memilih atasan atau pemimpin. Take it or leave it.

Namun, bulan depan adalah kesempatan kita melakukan pilihan dengan bijak karena hak suara kita akan menentukan nasib kita dan nasib bangsa ini untuk lima tahun mendatang. Uniknya, ketika memiliki dan diberi hak untuk memilih, tidak semua dapat dengan cepat menentukan pilihannya. Mengapa menentukan pilihan ini terasa begitu sulit?

Menghadapi para aktor politik ini, kita sering rancu antara kompetensi dan kepercayaan diri. Tentu kita semua sepakat bahwa seorang pemimpin harus dapat tampil percaya diri. Dalam leadership assessment di organisasi pun mereka yang mampu tampil di depan publik, memfasilitasi kerja sama dalam tim dengan baik akan mendapatkan poin lebih tinggi.

Namun, para asesor pasti juga akan melihat rekam jejak individu dalam menghadapi beragam tantangan di organisasi. Bagaimana mereka memperhatikan dan mengembangkan anak buahnya, bagaimana ia memengaruhi beragam pemangku kepentingan (stakeholders) beserta dengan agendanya masing-masing. Bagaimana kualitas dari keputusan yang dibuatnya terhadap kelangsungan organisasi. Bagaimana ia menyusun strategi yang dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas organisasi.

Demikian juga sebenarnya dengan para calon pemimpin bangsa ini, kita perlu memahami dengan baik rekam jejaknya untuk meramalkan bagaimana gaya kepemimpinannya nanti dapat mengatasi beragam tantangan yang akan dialami bangsa ini, baik di dalam maupun di luar negeri.

Beragam bias yang kita miliki sering kali akibat fantasi kita akan gambaran mengenai pemimpin itu sendiri. Tokoh-tokoh dalam buku maupun film masa lalu yang menggambarkan pemimpin sebagai sosok yang kuat, tegap, dan cakap. Hal ini bisa jadi yang membuat pemain sinetron, artis, berlomba-lomba mencalonkan diri sebagai wakil rakyat sambil kalau perlu mencantumkan info film yang pernah dibintanginya. Khawatir rakyat sudah tidak ingat lagi dengan sosoknya.

Slogan-slogan pun dibuat oleh para calon ini, yang bila kita telaah lebih mendalam sama sekali tidak menunjukkan bukti akan kemampuan mereka membawa perbaikan kualitas hidup rakyat yang diwakilinya. Romansa kepemimpinan memang dapat membutakan kita hingga tidak lagi menelaah kualitas calon pemimpin yang ada.

Sementara di Spanyol, ada Mar Galceran yang mengukir sejarah sebagai perempuan dengan down syndrome pertama yang duduk sebagai anggota parlemen nasional. Meskipun demikian, Mar justru ingin dilihat peran yang ia lakukan, bukan sekadar atribut yang disandangnya sebagai penyintas down syndrome. Selama lebih dari 20 tahun terakhir, ia memang aktif memperjuangkan kebijakan inklusif bagi para penyandang down syndrome di Spanyol dalam perannya sebagai pejabat publik.

Zaman dahulu, filsuf Aristoteles menyebutkan istilah “phronesia” untuk pemimpin ideal yang mengacu pada kebijaksanaan praktis. Artinya, pemimpin tidak perlu muluk-muluk menjanjikan solusi sempurna, tetapi justru bagaimana ia dapat mengambil pilihan terbaik dalam kondisi yang buruk sekalipun karena situasi inilah yang paling sering terjadi dalam menghadapi tugas rumit menjalankan negara.

Walaupun tidak ada formula jitu untuk kepribadian terbaik seorang pemimpin, proaktif, optimistis, serta mampu mengelola kecemasannya dalam menghadapi tekanan dan situasi yang tidak jelas akan memberikan mereka kesempatan yang lebih besar untuk mencari solusi yang lebih baik. Empati, sense of duty, dan komitmen untuk mempertahankan nilai-nilai sosial yang positif juga sangat diperlukan.

Uji kualitas

Kita memang tidak bisa sepenuhnya rasional dan obyektif. Pemikiran kita acap dipenuhi bias-bias akibat dari pengalaman masa lalu, keyakinan, ataupun stereotip terhadap kelompok tertentu.

Namun, kita harus ingat bahwa demokrasi tidak sama dengan fanatisme olahraga yang mati-matian membela tim kesayangannya apapun yang terjadi. Dalam menentukan pilihan yang memiliki efek jangka panjang, ada baiknya kita meluangkan waktu lebih banyak untuk menimbang-nimbang jawaban kita atas calon- calon pilihan kita. Menurut Steph McCallum, seorang ahli kepemimpinan, ada empat hal yang perlu dilihat oleh seorang pemimpin yang berani.

Pertama, keyakinan dan komitmennya. Kita perlu memahami prinsip yang dibela oleh pemimpin. Nilai-nilai yang mendasari keputusan dan tindakannya di masa lalu maupun pada janji-janji kampanyenya. Mereka yang menjanjikan perubahan, seperti apa perubahan yang sudah digerakkannya selama ini? Mereka yang menjanjikan makan gratis, apa yang mendasari keputusan ini? Sesuaikah hal tersebut dengan nilai-nilai kita sendiri?

Kedua, integritas dan keberanian. Integritas dan keberanian dapat mengalahkan rasa takut menghadapi situasi yang tidak menentu karena mereka tetap memiliki kesadaran diri yang tinggi dan konsisten pada komitmennya ketika konflik muncul. Mereka harus sangat sadar tentang dampak tindakan dan keputusannya, serta berani untuk sangat transparan terhadap pilihan-pilihan tindakannya.

Kita perlu melihat apakah terjadi keselarasan antara kata-kata dan kenyataan yang terjadi selama ini? Bagaimana sikap mereka dalam menghadapi konflik dan perbedaan pendapat?

Ketiga, keterbukaan dan hubungan baik. Bukan zamannya lagi pemimpin hanya melakukan telling tanpa kemampuan kolaborasi yang canggih. Mereka harus mampu mendorong orang-orang yang memiliki pandangan berbeda untuk saling terhubung dan belajar satu sama lain, serta membangun rasa inklusi yang bermakna karena setiap individu merasa bahwa mereka penting. Tidak ada lagi perasaan mayoritas dan minoritas.

Jadi, kita perlu melihat siapa yang mengelilingi para calon pemimpin tersebut. Adakah mereka memberi ruang dan menerima beragam kelompok yang berbeda?

Keempat, cara memengaruhi dan mendorong keterlibatan. Pemimpin yang baik tidak harus memiliki semua jawaban atas berbagai masalah. Namun, bagaimana ia mampu mendorong berbagai pihak untuk bekerja sama dan mencari solusi terbaik. Apakah mereka mampu membuat kita merasa bagian dari visi yang dikumandangkannya? Tanyakan pada diri kita, apakah kita ingin berperan aktif dalam visi tersebut?

Dunia membutuhkan pemimpin tapi sebagai pengikut kita juga perlu cermat dan berkontribusi. Mendukung bukan berarti menjadi penonton, tetapi cermat memilih dan ikut menentukan kualitas pemimpin yang akan berada di depan kita.

EXPERD   |   HR Consultant/Konsultan SDM

Diterbitkan di Harian Kompas Karier 20 Januari 2024

#experd #expert #experdconsultant #hr #hrconsultant #memilih #yang #terbaik

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi marketing@experd.com