was successfully added to your cart.

MARTABAT

Ribut-ribut mengenai ketua lembaga tertinggi, yang melakukan hal-hal yang tidak terpuji, walaupun belum berujung, sudah menggugah banyak orang dan membangunkan kita untuk berfikir mengenai martabat kita sebagai mahluk tertinggi. Romo Magnis, yang sudah sepuh tiba-tiba mengeluarkan taringnya, marah, dan menghimbau kita, sebagai manusia, untuk menyadari dan berupaya mengangkat kembali martabat kemanusiaan.

Kita sudah diserang kapitalisme. Tidak ada lagi partai yang berjuang berdasarkan prinsip dan keluhuran nilai. Hitung-hitungan kemenangan semata-mata dilandasi oleh ambisi berjaya dan berkuasa, agar keputusan berada dalam genggaman dan sesuai dengan kepentingan partai, yang ujung-ujungnya tidak lagi dilandasi misi yang kuat. Kita tengah berada dalam kondisi lingkungan sosial seperti ini. Mahasiswa juga tidak lagi bertumbuh menjadi manusia-manusia yang peka politik, peka kepemimpinan dan peka keadaan sosial kultural di masyarakat. Mesin-mesin sosial yang sejatinya berjalan otomatis, di kantin-kantin, di taman-taman, yang kemudian menciptakan manusia manusia pemusik, humoris, aktivis politik, dan para idealis, pada akhirnya semakin sulit ditemukan. Ekspresi, protes, dan kritikan pun kerap disampaikan secara digital, tanpa tatap muka lagi. 

Pertemuan tatap muka yang kita lakukan sering kali tanpa berbumbu emosi, keakraban, dan rasa. Padahal, komunitas harus sengaja diciptakan karena bila tidak, orang yang berminat sama tidak akan memiliki kesempatan untuk bertukar sudut pandang maupun pengalaman. Cara-cara baru dalam membangun koneksi antar manusia dalam masyarakat, yang diintensifkan secara on line ternyata memang efisien, tetapi kita kurang menyadari keterbatasannya. Kita hampir lupa bahwa ada sesuatu yang kurang dan tidak berkembang dari hubungan ini. Kita mampu terkoneksi dengan lebih banyak orang dalam waktu yang jauh lebih cepat, tetapi kualitas serta kedalaman hubungan kita tidak lagi kaya ekspresi, kaya interaksi ataupun kaya makna. Teknologi belum mampu secara utuh menangkap ekspresi kemanusiaan kita yang beragam lewat mimik wajah, intonasi suara, sikap tubuh dan juga sentuhan fisik, layaknya pertemuan tatap muka.

Google, Facebook, perusahaan-perusahaan raksasa di Silicon Valley, pusat teknologi justru menyadari kekurangan-kekurangan ini. Kantor mereka dirombak untuk mengakomodasi hubungan tatap muka antar manusia dengan memberikan ruang untuk bersepeda, duduk bersama di bawah pohon, berdiskusi, dengan tujuan agar aspek kemanusiaan tetap terjaga di lingkungan mereka. Teknologi, konon, sudah membuat kita menjadi manusia yang berbeda. 

Jangan salahkan teknologi

Manusia, yang hakikatnya adalah makhluk sosial, memang sedari lahir sudah diajarkan untuk menjaga perasaan orang lain, ber-unggah-ungguh, dan bertata krama. Semakin tinggi tingkat sosial dalam masyarakat, semakin tata krama menjadi penting. Apalagi bila individu termasuk golongan "priyayi" yang memang ditinggikan dalam masyarakat, maka semakin banyak aturan yang kesemuanya sebenarnya bertujuan menumbuhkan respek, baik kepada orang lain maupun kemudian untuk meningkatkan rasa hormat pada diri sendiri. Kemajuan teknologi, keseragaman bahasa, dan pendidikan, membuat hubungan yang mempertimbangkan respek ini kemudian berubah. Komunikasi bergerak cepat, apa adanya, dan bahkan tidak memberi kesempatan untuk menunjukkan emosi lagi. Tinggalah senyum diganti dengan emoticon, dan sering dianggap sudah cukup.

Kita memang sudah merasakan dehumanisasi, bahkan sebelum kita bisa memanfaatkan kekuatan manusia secara optimal. Mesin absensi, pengukuran kinerja, pemberian umpan balik, dan monitoring proyek sekarang sudah dilakukan melalui apps yang dikembangkan perusahaan. Ungkapan bahwa manusia adalah aset penting masih sering dikumandangkan, tetapi unsur kemanusiaan dianggap sudah bisa dihilangkan dan digantikan oleh mesin. Kita pun bekerja di lingkungan yang high pressured, bersaing, penuh tuntutan, tanpa kesempatan untuk memberi perhatian penuh atau mendengar sambil menyimak dengan baik. Kita berapat, sambil berkomunikasi dengan begitu banyak pihak dalam kesibukan kita. Ketika semua hal ini terjadi dengan begitu cepat, tanpa jeda, pada akhirnya terjadi pendangkalan perhatian yang kronis.

Titik-titik persinggungan kita yang kerap berlangsung sesaat, tanpa kedalaman, membuat kita merasa sudah terhubung, walaupun sesungguhnya banyak problema dari orang-orang di sekitar kita yang terlewatkan begitu saja. Padahal, kerapuhan, yang sama halnya dengan kekuatan ini, adalah bagian dari kemanusiaan. Dalam kondisi seperti ini bisakah kita berlindung di balik kemajuan teknologi dan mengamini pendangkalan penghayatan humanisasi kita. Kita tidak mampu merasakan perbedaan antara manusiawi dan tidak manusiawi. Kita tidak bergegas mencari definisi dan makna kemanusiaan ini, seolah olah ini hanya domain para filsuf saja.

Masihkah kita ingin mengembangkan "rasa percaya" satu sama lain?

Informasi yang simpang siur dapat menciptakan kebingungan, terutama bagi pemimpin yang mempertimbangkan banyak hal dibandingkan pengikutnya, dalam mengambil keputusan. Kelimpahan akses informasi, keluasan wewenang, dan besarnya kekuasaan tidak serta-merta membuat seorang pemimpin menjadi bijak dalam bertindak. Pemimpin tetap memerlukan prinsip dan nilai yang kokoh sebagai pandunya.

Pada akhirnya, pemimpin harus memilih prinsip apa yang akan ia pegang, dan teropong mana yang akan ia gunakan. Pilihannya, apakah ia akan menggunakan teropong yang instrumental atau humanistik. Teropong instrumental melihat pengikut semata-mata sebagai alat untuk mencapai tujuan. Rasa percaya sebagai dasar penting dari sebuah hubungan sulit tercipta apabila pemimpin tidak memiliki rasa hormat terhadap martabat kemanusiaan pengikutnya.

Di sisi lain, jika seorang pemimpin berniat untuk memajukan institusi atau negaranya secara sosial kultural, maka mau tidak mau ia harus menggunakan teropong lain, yaitu teropong kemanusiaan. Kemauan untuk mendengarkan dan menghargai sudut pandang unik orang lain adalah tindakan-tindakan sederhana yang bisa dilakukan pemimpin sebagai refleksi dari teropong kemanusiannya. Upaya membangun kedekatan, keintiman, dan ketulusanlah yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas hubungan dan membawa rasa saling percaya yang lebih tinggi.  

Dimuat dalam KOMPAS, 26 Desember 2015

 

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi marketing@experd.com