was successfully added to your cart.

Terobosan

Di jaman kompetitif begini, siapa pun pasti setuju bahwa mereka yang tidak kuat berinovasi, cepat atau lambat akan mati. Hasil penelitian yang dilakukan oleh kantor konsultan besar, McKinsey, menunjukkan bahwa 70 persen eksekutif top setuju bahwa inovasi termasuk salah satu dari tiga prioritas pengembangan mereka yang terpenting.  Namun, di tengah giat-giatnya perusahaan menyelenggarakan raker di awal tahun begini, kita bisa menilai sendiri, apakah selama ini kita telah berhasil menelurkan inovasi-inovasi yang membawa perubahan dan kemajuan? Ataukah sebaliknya, cenderung kembali pada manuver lama yang kita ulang lagi dan lagi, seperti yang sudah-sudah?

Tidak sedikit teman yang mengeluhkan, betapa komitmen untuk berinovasi atau menggarap usulan inovasi yang disepakati di awal tahun, sering patah di tengah jalan. Entah apa sebabnya, yang jelas banyak di antara kita tetap jalan di tempat alias terus melakukan praktek-praktek lama yang sudah basi. Ya, Indonesia memang belum masuk hitungan negara-negara yang inovatif. Padahal, negara tetangga kita seperti Cina, Singapura, India, bahkan Malaysia dan Thailand sudah menelurkan inovasi yang diperhitungkan secara global. Kita memang sudah seharusnya bertanya-tanya, apakah betul orang Indonesia tidak bisa berpikir kreatif dan menelurkan terobosan yang inovatif? Kita tahu begitu banyak anak muda di Indonesia punya potensi besar dan ide cemerlang. Tapi, kapan dan bagaimana kita bisa menembus arena persaingan dan membuat tokoh, perusahaan, lembaga dan negara tiba-tiba menonjol dan diperhitungkan?

Bersiap Menentang Arus

Dari sejarah kita membuktikan bahwa banyak pemikir dan penemu yang diakui hasil pemikirannya ketika dia sudah meninggal. Kita tahu Copernicus, ilmuwan yang pertama kali mengatakan bahwa bumi mengitari matahari, menentang teori yang diyakini ratusan tahun yaitu bumi sebagai pusat alam semesta, dianggap gila kemudian dibunuh. Padahal belakangan kita ketahui pemikirannya benar. Terkadang kita memandang aneh seorang yang suka berpikir beda dan senang melawan arus. Kita lihat ide-ide baru tidak selamanya diterima mudah dengan tangan terbuka, bahkan sebaliknya bisa membuat seorang pembaharu dianggap aneh atau dimusuhi oleh rekan kerja bahkan atasannya. Tentu kita ingat bagaimana masyarakat menolak kebijakan pemakaian helm, meragukan busway maupun mempertanyakan efektivitas sistem 3 in 1 di jalan raya. Pejabat yang membuat terobosan sistem untuk menangkal korupsi di departemennya, bahkan sampai diancam dibunuh ramai-ramai.

Meskipun kita tahu banyak usulan dan terobosan dibuat dengan tujuan baik, tidak selamanya kita dengan mudah dan sukarela siap berpartisipasi. Ini bukan gejala aneh, juga bukan gejala khas orang Indonesia. Setiap perilaku manusia, sebetulnya mempunyai akar yang dalam. “Behavioral Rivers Run Deep” demikian seorang psikolog. Jika inovasi belum menjadi kesadaran kolektif dan hanya mengandalkan kekuatan segelintir individu pembaharu, rasanya memang akan lebih sulit untuk membuat terobosan. Tidak heran bila kita yang mula-mula antusias  dan harap-harap cemas mengharapkan melihat adanya pembaharuan di lembaga-lembaga pemerintah, kemudian jadi frustrasi karena pola lama kembali dan kembali lagi, apalagi kemudian bisa dimentahkan sendiri oleh pimpinannya.

Gerakan Inovasi

Mengandalkan individu semata untuk melakukan terobosan tentu berlebihan. Inovasi perlu menjadi gerakan bersama jika memang kita meyakini betapa inovasi akan menentukan kesuksesan tim, perusahaan, lingkungan bahkan bangsa. Dalam sebuah institusi, inovasi perlu dirasakan sebagai kebutuhan semua orang, bukan sebuah ‘black box’ dalam organisasi, bukan sekumpulan manusia aneh atau tim adhoc yang memang dianggap perlu berpikir nyeleneh.  Pemimpin di organisasi perlu menggerakkan semua individu untuk ‘on board’ dalam gerakan inovasi, bukan sekedar menerima inovasi tetapi ‘mengisi’ inovasi dengan upaya dan enerji ekstra. Paradigma “getting out of the box” bukan sekedar perlu diyakini, namun perlu dijaga untuk tidak dibarengi dengan paradigma “asal bukan saya”, yaitu silakan lakukan perubahan asalkan bukan saya “korban”-nya. Kita bisa membuktikan gejala ini dari persentase orang-orang yang berkoar tentang pentingnya NPWP, tetapi tetap tidak mau repot-repot berusaha mengurus dan memilikinya sendiri.

Jangan Menjadi “Anti Champion”

Walaupun kita berpandangan populer bahwa kita hidup di era yang kompleks, hi-tech, urban dan modern, hasil penelitian mengatakan bahwa perilaku kita masih berakar pada  kehidupan agraris 50.000 tahun yang lalu. Sementara, pola pikir teknis dari 150 tahun yang lalulah yang melekat pada pemikiran kita kita yang merasa muda ini. Menyadari hal ini, kita pun lebih baik mengikuti apa yang terjadi di bawah sadar kita dan menggunakan enerji yang sama untuk mengisi inovasi.  Kita tidak bisa lagi mendekati inovasi sebagai barang aneh. Inovasi harus datang dari dekat, some inside, some out, more from street level than the tower”.

Gerakan inovasi perlu digaungkan lebih kuat pada dan oleh setiap individu dalam organisasi sehingga ‘sense of urgency’-nya bisa mendorong perubahan. Tuntutan pelanggan yang makin kompleks, kebutuhan koordinasi yang harus lebih cepat dan efisiensi, kebijakan pasar bebas di depan mata, jangan sampai menjadi musuh yang harus dihindari, tetapi sebaliknya perlu dijadikan energi untuk menyuburkan inovasi.

(Dimuat di KOMPAS, 6 Februari 2010)

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi marketing@experd.com