was successfully added to your cart.

Job Security?

JOB SECURITY?

Eileen Rachman & Sylvina Savitri

EXPERD

ASESSMENT CENTER

Berita mengenai krisis mungkin sudah hampir memenuhi seluruh kepala kita, datang dari berbagai arah dan hampir semua media. Meski senantiasa diingatkan untuk bergiat mengerahkan seluruh daya upaya dan meningkatkan kewaspadaan menghadapi dampak krisis, tak urung berita mengenai PHK dan karyawan dirumahkan yang masih terus menghiasi headlines berbagai media, membuat hati kecut juga. Kita seakan terus dipaksa untuk menyadari kenyatan bahwa keadaan ekonomi memang tidak akan membaik dalam satu dua hari. Tidak sedikit individu yang berpikir ’Bagaimana dengan saya?”. Tentunya kekhawatiran akan kehilangan pekerjaan mengusik pikiran.

Kita rasanya harus mengakui bahwa umumnya kita lebih punya bekal untuk memotivasi diri maju berkembang, daripada bekal dan persiapan untuk ‘mundur’. Dari hasil penelitian, 80% karyawan yang di PHK, masih bertanya-tanya “kenapa saya?”. Seolah-olah tumbuh di dalam setiap individu ‘hak untuk bekerja seumur hidup”, yang sebenarnya semu.

Ketidaksiapan kita menghadapi situasi sulit, kerap diperparah oleh perusahaan yang membuai karyawannya dalam ‘comfort zone’. Pembicaraan mengenai ekspansi, penambahan orang, kurangnya talenta, bonus tinggi, gaji dobel, dan janji-janji bahwa semua akan ‘baik-baik saja’. Bila saat sekarang kita merasakan kekhawatiran berkadar tinggi, takut perusahaan tidak ‘survive’ ataupun takut menjadi korban pemecatan, maka kita perlu bertanya-tanya pada diri sendiri: ”Masih adakah ‘job security’ di jaman serba instan, remote, dan digital ini? Empat puluh atau bahkan lebih dari lima puluh tahun lalu, orang – orang mungkin bercita – cita pekerjaannya ditanggung sampai pensiun. Namun di masa itu mobil masih bisa dihitung dalam angka ratusan, jalanan sepi, aman tenteram, kegiatan dilakukan secara manual dan asal sedikit  berpendidikan, maka tidak sulit rasanya mendapat pekerjaan sampai pensiun. Apakah kembali ke masa itu yang betul – betul kita inginkan?

Jangan Bengong

Siapa pun harus mengakui bahwa produktivitas menjadi sangat tinggi dalam keadaan krisis. Lihat saja betapa dalam situasi kebakaran, perang, menghadapi persaingan, mempersiapkan tender, adrenalin akan mengalir deras, dan semangat kreativitas pun langsung berkembang subur. Katakanlah seorang yang direkrut untuk menanggulangi pencurian di sebuah department store, berhasil mengurangi sampai titik nol tingkat pencurian dengan berbagai manuvernya. Bila sudah tidak terjadi lagi pencurian, ia terancam kehilangan pekerjaanya. Orang seperti ini hanya bisa terus ‘dipakai’, bilai bila ia kreatif dan mampu membuat nilai tambah di atas kemampuan yang sudah ditunjukkannya, misalnya melakukan tindakan preventif lebih jauh, melakukan coaching ataupun membuat perencanaan yang proaktif.

Dengan pemahaman ini, masihkah kita mendambakan keadaan aman tentram dalam bekerja, seolah berada di tempat sepi tak berpenghuni? Bukankah kita baru merasa berarti, berharga dan menepuk dada, bila bisa ‘mengalahkan’ situasi, memecahkan masalah , menemukan jalan baru dan berinovasi secara kreatif?

Biasakan Diri Berada Di Ujung Tanduk

“Work a little harder as if you die a little younger‘, ungkap seorang ahli manajemen. Inilah cara berpikir orang yang selalu membiasakan diri berada di ujung tanduk dan memperoleh rasa aman yang timbul karena ‘alertness’ bukan keadaan status quo. Kita pun bisa meminjam mindset dari para olahragawan yang akan telak-telak kalah bila tidak melatih ‘endurance’-nya dengan mendera dirinya mati-matian.

Mantan juara All England Liem Swie King, lari keliling lapangan sebanyak 60 kali, untuk menjaga stamina dan melatih kecepatan responsnya. Apakah atlet seperti mereka tidak mengkhawatirkan “Job Security”? Begitu kalah dalam sebuah pertandingan, maka ‘job’ nya sebagai atlit selesai. Hanya bila ia sedikit berfikir keras dan luas, ia bisa tetap menjaga ‘employment’-nya bila ia bisa membuat nilai tambah dari pengalaman, mental dan keterlatihannya. Lelah? Sudah pasti. Namun, bukankah kita lebih baik berada dalam situasi krisis yang masih berada dibawah kontrol kita dahulu, sehingga ketika kita tidak 100% menguasai situasi, kita pun mempunyai kecepatan respons yang terlatih.  

Paul G. Stoltz, Ph.D. dalam bukunya tentang ‘Adversity Quotient’ tahun 1997, seolah sudah meramalkan bahwa banyak individu memerlukan resep ‘jatuh bangun’ nya. Apakah kita akan cepat bangkit dari situasi sulit atau lama terpuruk, tergantung dari kadar ‘CORE’ (Control, Ownership, Response and Endurance) yang kita miliki. Seorang pengusaha yang sudah mengalami jatuh – bangun karena krisis, mengatakan ia menyadari betul bahwa krisis datang dalam suatu siklus. Justru pada saat krisis belum datang, kita perlu berlatih dan mendera diri kita sebagai bekal menghadapi ‘arena’ krisis yang menuntut adu kekuatan. Situasi sulit, dan bukan situasi adem ayem-lah, yang bisa membedakan siapa pemenang sejati. Tidak hilangnya ketenangan, keyakinan akan kekuatan yang dimiliki, serta optimisme karena terbiasa dan terlatih inilah yang merupakan esensi dari CORE yang disebut oleh Paul G. Stoltz.

(Ditayangkan di KOMPAS, 21 Maret 2009)

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi marketing@experd.com