was successfully added to your cart.

POSITIF!

PERNAHKAH di tahun 2016, kita menghitung, berapa persen bacaan yang positif berbanding dengan yang negatif? Bahkan, sekarang, hal yang jenaka dan menarik, sering pula kita tanggapi secara sinis dan miring. Padahal, kita sedang menghadapi berbagai perayaan tutup tahun dan akan menyambut tahun yang baru. Kita tahu dan sangat sadar bahwa setiap orang mempunyai kekurangan. Namun, kita tampak semakin hari semakin gemar mengekspos kekurangan orang lain, dan seolah terheran-heran membaca kelemahan mereka. Apakah hal ini tidak berbahaya? Bagaimana kalau  generasi penerus kita hidup dalam dunia yang lebih negatif dibandingkan era ketika kita dibesarkan? Banyak penelitian sudah tegas menyatakan bahwa memang pada hakikatnya, manusia lebih suka bereaksi terhadap hal yang negatif daripada positif. Demikian pula bau busuk kritik yang biasanya memang tidak membangun akan lebih bertahan daripada wanginya pujian.

Bahkan, di dalam sebuah percobaan yang dilakukan, seseorang perlu mengingat-ingat kejadian emosional penting dalam hidupnya, ternyata ditemukan bahwa.rata rata individu akan mengingat satu kejadian positif dan empat kejadian negatif. Inilah yang menyebabkan orang juga enggan menerima masukan atau menghindari kritik karena di dalam benaknya orang sudah sarat dengan memori negatif, baik tentang dirinya maupun orang lain. Penelitian lain juga membuktikan bahwa organisasi yang berisikan orang-orang yang hanya membicarakan masalah, kekurangan, dan kelemahan ternyata gagal mencetak anggotanya untuk mencapai prestasi puncak. Bukankah ini sangat berbahaya? Apa jadinya kalau kita senegara berfikiran negatif semua? Jelas bukan bahaya penggunaan ponsel pintar yang berlebihan saja yang perlu diwaspadai, melainkan beredarnya pernyataan-pernyataan negatif secara konstan, akan merusak mental kita dan anak cucu kita.

Dalam ilmu manajemen kinerja, ada petunjuk untuk memberi istilah kelemahan atau kekurangan sebagai opportunites for improvement. Alih-alih melabelnya dengan istilah yang negatif dan terkesan tidak bisa diubah, mari melihatnya dari sisi yang lebih positif, yaitu masih terbuka peluang untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Kita pun bisa menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Bisa kita bayangkan, bila dalam suatu lingkungan kita menjadi orang-orang yang haus akan kesempatan untuk bertumbuh karena memang  banyak hal yang masih perlu kita kembangkan. Bukankah nyata bedanya?

Mencari kesempatan dalam kesempitan

Kita tahu bahwa suasana organisasi itu menular. Demikian pula halnya terjadi dalam organisasi yang lebih besar, misalnya negara. Lingkungan yang giat akan menularkan suasana kerja yang giat pula. Itulah sebabnya dalam organisasi, kita tidak bisa memilah-milah dan memilih siapa yang perlu dikembangan dan siapa yang bisa dibiarkan. Bahkan, petugas kebersihan pun perlu diyakinkan bahwa ia bisa mencapai prestasi yang lebih baik. Bila dalam lingkungan sosial tertentu, banyak beredar komentar positif, tumbuhlah suasana berkembang, bahkan pada tukang sapu sekalipun. Hal-hal yang negatif membuat orang menjadi defensif. Orang yang defensif akan sibuk melindungi dirinya, mencari berbagai macam pembenaran, dan kehabisan waktu serta tenaga untuk mengembangkan dirinya. Dalam kondisi semacam itu, bagaimana mungkin kita berkesempatan untuk menggali personal best masing masing orang. Bagaimana mungkin kita mampu menjual atau menikmati kinerja puncak setiap individu? Energi masing-masing sudah ditahan dalam dirinya, dan membentuk lapisan keras anti-umpan balik dan sifat ‘malas berubah’. 

Organisasi positif

Walaupun belum banyak yang melakukan, kita bisa menuliskan pernyataan misi kita dengan menyelipkan kata positif di dalamnya. Kita perlu meyakinkan setiap individu yang tergabung bahwa salah benar akan ditanggapi dengan positif. Kita perlu mengembangkan suasana adversity, bounce back, dan mencari bahan untuk menciptakan sebanyak mungkin kesempatan untuk perbaikan. Kita perlu menyebarkan tingkat-tingkat kesuksesan baru bagi setiap individu. Misalnya, dalam suatu organisasi, ada keharusan bagi setiap individu yang menyampaikan masalah, untuk menyertai pernyataan itu dengan  empat pernyataan yang bernada perbaikan, berenergi positif dan meningkatkan kinerja. Dengan demikian, terjadilah dinamika positif dalam organisasi dengan banyak menyebut kata resilience, kekuatan, vitalitas, dan rasa percaya yang akan memberi efek positif kepada produktivitas dan prestasi. Kita harus meninggalkan kultur caci maki, seperti yang sedang beredar di negara ini.

Kita perlu mengembangkan sikap fleksibel dan merayakan setiap prestasi sekecil apapun. Bisakah kita membayangkan kalau suasana positif ini menggema dan membudaya di setiap sudut negara kita? Di setiap pelosok, kita akan bertemu dengan berbagai individu yang optimis, terbuka dan rela berinteraksi. Kitapun lalu menjadi negara yang kompetitif karena berisikan manusia-manusia yang gesit, cerdas dan mau belajar.  Bagaimana dengan kesalahan dan kekurangan? Tentu kita bisa mengolah umpan balik dengan sikap analitis, mempelajari polanya dan kemudian membangun komitmen untuk mengubah, dan mengevaluasinya lebih lanjut. Orangtua kita dulu mendidik dalam kesantunan, yang memberikan sumbangan positif terhadap perkembangan saat ini. Mari kita tularkan kebaikan-kebaikan ini juga kepada generasi penerus. Hanya dengan cara ini kita bisa menjadi bangsa yang “di atas rata-rata”. 

Dimuat dalam KOMPAS, 24 Desember 2016

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi marketing@experd.com