was successfully added to your cart.

WORK LIFE FITNESS

Teman saya mengalami gejala semacam ‘burn out’, stres berat. Dia mengeluhkan pekerjaan yang me-’makan’ kehidupan pribadinya. Jalanan yang macet di Jakarta membuat ia harus berangkat subuh. Sesampai di kantor, ia sudah merasakan kelelahan berat, dan segera semua target pekerjaan, tersaji di depan mata. Belum lagi rapat-rapat mendadak, yang biasanya bertele-tele. Kembali ke rumah menjelang malam, ia sudah akan menghadapi tuntutan keluarga untuk memasak makanan sehat sendiri, di mana ia tetap harus berpikir untuk mengerjakan pe-er pe-er dari kantor. Alangkah ‘ribet’nya hidup ini. Kita tentu semakin banyak menemui teman-teman yang mengeluhkan kondisi seperti ini, bukan? Bahkan, bisa jadi kita pun mengalaminya sendiri.

Keinginan untuk mengerjakan semua dengan perfek, baik itu tuntutan pekerjaan di kantor dan di rumah, sering membuat kita stres. Teman saya ini berpendapat bahwa bila ia menjadi wirausahawan, ia bisa lebih ‘menentukan’ waktunya sendiri, dan bisa lebih mem-’balance’ waktu antara rumah dan kerja. Nasehat-nasehat untuk mensinkronkan kegiatan rumah dan kerja tidak mempan. Kita tentu jadi berpikir, apakah betul rumah dan kerja adalah dua hal yang bertentangan? Apakah kita memang mesti membuat semacam timbangan untuk menyamakan porsi waktu antara rumah dan kerja? Mungkinkah itu? Siapa yang bisa menentukan, mana yang lebih penting: kerja, mengurus rumah, atau hal hal lain, seperti teman, ibadah, kesehatan dan keluarga? Apakah tidak produktifnya kita, memang terletak dalam kesibukan kita untuk menimbang-nimbang ‘balance’-nya?

Hal yang sering dilupakan orang yang mengalami konflik work-life adalah bahwa kunci penyelesaian konflik ini sepenuhnya terletak di “dalam” diri kita, bukan tergantung dari faktor eksternal. Kitalah yang menentukan apa yang paling kita butuhkan pada saat tertentu, apakah itu: uang, karir, fokus pada kesehatan, ataupun hal lain. Kitalah yang menentukan tindakan yang bisa kita fokuskan. Response kita ada dibawah kendali kita 100 %. Timbangan yang “adil” di masa sekarang rasanya hampir-hampir tidak mungkin. Itu sebabnya, yang perlu kita kelola adalah menghitung ‘work-life effectiveness’. Rasanya kita juga perlu bertanya pada diri kita sendiri: Apakah sikap kita terhadap waktu cukup fair? Apakah kita dikejar-kejar waktu, atau justru mengejar-ngejar waktu, dan mengawasi waktu dengan penuh ketegangan. Bukankah selain mengelola waktu kita juga punya pe-er untuk mengamati bagaimana penggunaan enerji kita selama ini?

The ‘new’ normal

Tarik menarik antara rumah dan kerja ini adalah suatu hal yang menahun, terjadi sejak dulu, Namun jelas, dunia kita sekarang sudah jauh berubah dari situasi 20 tahun yang lalu. Tuntutan kompetisi, tidak bisa membuat kita, karyawan ataupun wirausahawan, memenggal waktu secara ekstrim, misalnya ini adalah waktu kerja, ini adalah waktu non kerja. Bukankah kita saat ini bekerja sambil bergaul? Kita melihat orang bekerja di rumah, namun di sisi lain kita melihat juga orang mengurus rumah tangganya dari kantor. Orang berbelanja ‘on line’ dari kantor, bergaul melalui sosial media, membuat keputusan bisnis ratusan milyar di acara-acara makan siang. Teknologi sudah membuat kita terkoneksi terus menerus, 24/7. Globalisasi memaksa kita untuk ‘jaga’ dan ‘waspada’ siang malam, dan berespons cepat. Sebetulnya, kita tidak perlu mengerjakan pekerjaan ‘lebih’, justru perlu trampil mengefisienkan pekerjaan dan pertemuan.

Bila cara kerja kita sekarang tidak efektif, satu-satunya jalan adalah mengubah paradigma kita, dan menggesernya lebih maju. Bila tidak, ‘burn out’ menghadang, kita kehilangan kreativitas, bahan bakar enerji kita terkuras dan kita jadi semakin  tidak ‘passionate’ pada apa yang kita lakukan. Kita perlu memahami bahwa “balancing”, bukan tujuan, namun ketrampilan, dan alatnya sekarang semakin lama semakin banyak. Orang bisa dihubungin 24/7 lewat berbagai media komunikasi. Orang bisa memilih pertemuan-pertemuan yang disukai, dan menghindari pertemuan basa-basi, penuh gossip yang tak ada gunanya. Orang bisa memilih tempat bertemu klien yang disukainya, tidak harus terpaku di kantor atau di satu lokasi tertentu saja. Kita bisa memilih waktu istirahatnya, dan bukan semata berfokus pada  jam kerja yang lebih panjang. Cali Williams Yost mengatakan : “Twenty years ago clocks and walls told us where work ended and the other parts of life began,” “But the clocks and walls have disappeared.” So get moving, and relaxation goes along the way.

“Master”, bukan “Budak”

Pernahkah kita, membaca atau menyaksikan tokoh-tokoh, semacam Albert Einstein, Thomas Edison, Martin Luther King, Richard Branson, Oprah Winfrey membicarakan keseimbangan work life? Bukankah kehidupan mereka juga sangat hectic? Apakah kekakuan pembagian waktu menjadi masalah? Kita jelas melihat bagaimana orang-orang beken ini lebih berfokus pada hasil pemikiran, hasil pekerjaan, dan kontribusinya pada masyarakat. Menderitakah mereka? Mengapa mereka tidak di-‘makan’ oleh kehidupan yang keras itu? Dari para tokoh ini kita belajar betapa pengaturan energi itu sangat personal dan sangat tergantung pada di mana kita berada, dan apa yang kita prioritaskan? Hal yang benar-bener perlu kita konsentrasikan, bisa kita dekati dengan penuh ‘passion’ dan kita fokuskan benar benar. Magicnya adalah dengan passion dan engagement tadi, kelelahan kita terjamin berkurang, dan waktu penyelesaiannnya akan jauh lebih cepat. Dan hal ini berlaku di manapun kita bekerja, apakah di kemiliteran, korporasi atau sebagai wirausaha. “Rethink how you work and when you work” kata Einstein.

Bila kita mengintip gaya hidup para tokoh dan wirausahan sukses, kita bisa tahu bahwa kerja bukan sekedar bekerja bagi mereka. Kerja adalah hobinya, ‘passion’ nya, mimpi yang direalisasikan, dan merupakan bagian hidup yang sangat penting. Di diri mereka balance sudah merupakan agenda sehari hari, agar semua goal bisa tercapai. Weekend dan week day tak ada bedanya. Mungkin letak bedanya ada pada kesempatan yang bisa kita dapatkan Kitalah yang perlu fleksibel menangkapnya. Inilah sebabnya kita perlu berlatih untuk pandai-pandai, memanfaatkan fokus dan passion kita. Sekarang saatnya kita mengelola fokus kita, bukan lagi sekedar mengelola waktu. Kita perlu memilih ‘work with passion” ketimbang ‘work harder’. Kita perlu meyakini bahwa kita adalah ‘master’ dari waktu kita dan pekerjaan kita. Bukan budak waktu dan pekerjaan.

(Dimuat di Kompas, 21 Desember 2013)

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi marketing@experd.com