was successfully added to your cart.

PEMIMPIN: PAWANG INOVASI

Seberapa sering kita mendengar ungkapan: “Innovate or die”? Kita pun tahu bahwa orang-orang seperti Steve Jobs, memang disegani karena inovasinya. Meski kita meyakini inovasi itu positif, bukankah kita masih sering terlena dan berendam dalam status quo, menikmati kondisi nyaman yang ada saat ini? Pernahkah kita menghitung seberapa sering kita mengalami gejala ‘ketinggalan kereta’ di mana ide-ide dan produk-produk baru yang kita pikirkan ternyata lebih dulu dilakukan oleh kompetitor? Kita sering mendengar, bahkan mengalami sendiri, betapa perubahan kerap tidak terjadi karena ide-ide yang pernah kita pikirkan tidak kita teruskan sampai menjadi produk baru, system baru dan cara baru yang membawa kemajuan dan bisa membuat orang tertarik. Siapa yang sebetulnya bertanggung jawab terhadap situasi ini?

Di saat sekarang kita pasti bisa merasakan betapa permasalahan tanpa diundang pun akan muncul di depan mata. Kedelai yang dulu begitu mudah diperoleh, bisa hilang dari pasaran. Produk atau jasa yang dulunya menjadi tulang punggung perusahaan, bisa berbalik tidak laku di pasaran dalam waktu sebentar. Banyak permasalahan yang tidak bisa diselesaikan secara instan dan bila tidak ditanggapi akan segera menumpuk menjadi persoalan besar yang serius. Pertanyaannya, pernahkah kita mengamati reaksi kita saat melihat permasalahan di organisasi? Bila kita tidak membiasakan diri berinovasi, reaksi kita biasanya adalah pasrah atau menyalahkan orang lain. “Mengapa sih tidak ada yang berpikir antisipatif? Mengapa tidak sedia payung sebelum hujan?”. Kerap terjadi, kita menunggu perintah pemimpin untuk berinovasi. Bisa jadi kita lupa bahwa di saat sekarang, dalam organisasi, kepemimpinan setiap orang sangat dibutuhkan, paling tidak untuk memimpin dirinya sendiri, berinisiatif dan bergerak mencari jalan baru, produk baru, sistem baru yang lebih praktis. Kita tidak bisa lagi berharap ada bagian R&D atau tim khusus yang menelorkan solusi atau produk baru secara teratur. Mengapa? Karena problem yang perlu dicarikan jalan keluar itu ada di mana-mana di seputar organisasi. Mau tidak mau kita sendiri harus berinisiatif dan bergerak mencari jalan baru, produk baru, sistem baru yang lebih praktis. Kita tidak bisa menjauh dari masalah, karena permasalahan inilah sumber inspirasi dan cikal bakal inovasi.

Inovasi perlu menjadi akuntabilitas semua orang dalam sebuah organisasi. Hanya kondisi inilah yang bisa membuat perusahaan tetap muda. Annmarie Neal, vice president talent management di  Cisco, mengatakan: “Innovation is in the DNA of the company and is core to everything that we do. There’s almost this entrepreneurial or creative expectation that everyone is innovating in their space.” Presiden Human Resources dari L’Oréal USA, mengatakan bahwa inovasi bukan lagi strategi, namun adalah model sosial sebuah organisasi. Jadi, tantangan kita semua, sebagai pemimpin atau calon pemimpin, tidak lagi cukup  membuat strategi ataupun melakukan hal-hal manajerial seperti PDCA, tetapi justru mengatur cuaca inovasi yang kondusif terhadap pemikiran-pemikiran baru dan memastikan ide-ide ditindaklanjuti sampai ‘happens’.

Aset intangible yang sangat berharga

Mari kita periksa, apa yang biasanya menjadi agenda dalam meeting-meeting reguler kita? Biasanya kita  berfokus pada aspek tangible seperti penjualan atau produksi yang sudah dan harus berjalan, bukan? Ya, kebanyakan dari kita lengah memelihara daya dan cara pikir yang kreatif dan berorientasi pengembangan, karena terlalu fokus pada hal-hal yang teraga seperti angka produksi dan penjualan. Sembari bisnis tetap jalan, hal yang perlu kita lakukan sebagai pemimpin adalah selalu mengingatkan rekan dan tim kita untuk menyisakan fokus pada ‘problem solving’ yang kreatif. Disela-sela kesibukan mengejar target, dan KPI, kita perlu menyisihkan pikiran untuk kepentingan jangka panjang, kolaborasi dan penyatuan. Hal sederhana yang ampuh adalah dengan mempertanyakan ‘why’ dan ‘how’ yang baru. Kita jelas perlu menjaga agar proses yang ada selalu bertambah cepat, jangan sampai berjalan dengan tempo tetap atau bahkan menjadi lambat. Dalam menjaga iklim inovasi, kita ibarat berenang, namun tidak sepenuhnya merendamkan kepala ke dalam air. Kesemuanya ini adalah agar suasana kompetitif dan semangat berinovasi tetap ada.

Inovasi sebagai Kultur

Pemimpin yang baik perlu menekankan agar setiap individu dalam organisasinya merasa bahwa kalau ia tidak berinovasi, ia akan menjadi beban dan penghambat. Mentalitas ini harus ada untuk memutar roda organisasi. Inovasi harus diprioritaskan. Orang yang mengungkapkan ide baru harus didengar. Setiap ide, yang sukses maupun yang tidak sukses, perlu dihargai. Ini akan membuat semua orang pede untuk mengeluarkan ide dan solusinya, serta tidak ragu dengan solusi-solusi kecil, yang mungkin dirasa tidak terlalu ber’impact’. Ide-ide tersebut pun perlu disambut dan diladeni oleh sebuah sistem, sehingga tidak melempem di tengah jalan. Rasa percaya pada atasan, teman, dan lembaga perlu kita jaga betul, karena mau tidak mau dalam mencoba hal baru pasti ada risiko. Risiko inilah yang perlu ditanggung bersama. Atasan atau pemimpin pun perlu berlatih untuk mengakui kehebatan orang yang jauh lebih junior atau rendah pangkatnya, karena seperti kita sadari, pemimpin juga  perlu sekali sekali menyatakan: ”Saya tidak tahu” atau “Saya sedang belajar”. Hanya lingkungan atau atmosfir yang kondusif terhadap inovasilah yang bisa menyuburkan inovasi.

Selain ide dari dalam, pelanggan dan ‘orang luar’ pun perlu dijadikan sumber inspirasi. Kita tidak lagi sekedar menyajikan bentuk-bentuk layanan baru bagi pelanggan, namun kita pun perlu menggali apa yang belum disadari pelanggan. Mendapat informasi terkini dari pasarlah yang sekarang perlu kita upayakan. Penggalian informasi dari pelanggan pun sebetulnya tidak bisa diserahkan ke bagian atau divisi tersendiri. Kita semualah yang perlu lebih “broadminded”, lebih aktif melakukan benchmark, juga berpartisipasi dalam berbagai event, mengikuti diskusi-diskusi penilaian terhadap jasa dan produk kita, dan membuka diri untuk memahami pendapat mengenai diri kita melalui kacamata orang lain.

(Dimuat di Kompas, 21 September 2013)

For further information, please contact marketing@experd.com