was successfully added to your cart.

"SURVIVAL OF THE FITTEST"

Istilah survival of the fittest yang digunakan 150 tahun yang lalu merujuk pada seleksi alami mahluk hidup menghadapi evolusi, tampaknya masih relevan saat ini dalam konteks yang berbeda. Yang paling fit bukanlah yang terkuat menahan hempasan musim atau adu otot lagi, melainkan mereka yang tahan menghadapi badai perubahan sosial dan teknologi yang tidak kenal ampun. Kita melihat bagaimana perusahaan burger raksasa dan minuman klasik yang sudah lebih seratus tahun mengalami kemunduran. Perusahaan taksi yang sudah menjadi raja secara bertahun-tahun dihajar oleh perusahaan berbasis digital dan komunitas tanpa armada satupun.

Inilah keadaan yang dalam istilah kemiliteran disebut dengan VUCA: volatile, uncertain, complex dan ambiguous. Ini sama sekali bukan istilah baru, melainkan dengan perubahan yang terjadi semakin cepat, kita semakin terdesak. Volatility, yaitu perubahan tak terprediksi sama sekali dan tak tentu arah. Uncertain, yaitu hal besar yang disruptive datang dengan irama yang tidak terduga dan bertubi-tubi. Data lama tidak bisa lagi digunakan untuk memprediksi masa depan, akibat realita yang sudah berbeda sama sekali. Complexity yaitu sebab akibat terjadi bukan antara 2 faktor atau 2 keadaan saja, tetapi terdiri dari puluhan faktor yang berinterelasi satu sama lain. Ambiguity di mana pertanyaan who, what, where, when, how, dan why sulit dijawab dengan tepat karena banyak hal yang tidak memiliki deskripsi yang pasti. 

Tinggal kita memilih apakah mau ikut bermain di tengah keadaan disruptif ini, atau bengong menunggu dan tetap menikmati sisa-sisa kejayaan di masa lalu. Berubahnya keadaan ini tidak main-main. Bertambahnya manusia yang membuat jalanan penuh sesak, makanan rekayasa genetik untuk mendorong produksi, hutan yang sengaja dibakar demi lahan sawit berkonflik dengan kepentingan membuat keuntungan yang pada akhirnya juga menyejahterakan karyawan masing-masing lembaga. Namun perkembangan teknologi jugalah yang menyebabkan orang bisa menjual hal hal yang tidak teraga tanpa perlu mengeluarkan banyak modal seperti keadaan beberapa dekade yang lalu. 

Yang gesit yang berjaya

Peter Fisk dalam bukunya Gamechanger menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan yang mampu mengubah bisnis dunia ini adalah perusahaan yang sukses mendahului perusahaan-perusahaan lain, baik besar atau kecil. "See sooner and scan wider" katanya. Kita tidak bisa lagi memisahkan antara perancang strategi dan pengeksekusi. Kita perlu melakukan keduanya sekaligus dalam satu waktu. Bagai pemain hockey es seperti Wayne Gretzky yang selalu menggabungkan antara gerak, kekuatan dan kecepatan membaca keadaan dalam waktu yang tepat tidak ada lagi situasi comfort zone mengingat hitungan waktu yang digunakan bukan lagi bulan atau tahun, melainkan detik.

Bagaimana dengan manfaat pengalaman organisasi selama sekian puluh tahun? Bagaimana dengan talenta yang sedang dikembangkan? Tidak ada yang salah dengan talenta maupun pengalaman yang sudah ditabung. Hanya saja dalam situasi VUCA seperti ini, bukan hanya pemimpin yang perlu strategik dan inovatif, tetapi tugas setiap oranglah untuk membuka mata lebar-lebar terhadap keadaan pasar dan mengajak organisasi berubah. Organisasi perlu adaptif, mengganti kebiasaan-kebiasaan dan siap menambah kapabilitas. Hal ini sudah dibuktikan di dunia olah raga, di mana ketrampilan olahragawan semakin lama semakin canggih, potensi manusia memang perlu digali dan dioptimalkan lebih dalam lagi.

Waktunya menampilkan aspek "super human" kita 

Bayangkan organisasi yang berisi manusia-manusia yang giat mengantisipasi perubahan pasar, saling menantang pendapat orang lain, berusaha mencari tahu dan menginterpretasikan gejala-gejala baru. Bukankah kita akan merasakan dorongan untuk berubah? Apalagi bila organisasi mengubah dan mendorong anggotanya untuk melakukan alignment, tukar-menukar peran pula, belajar dari mana saja dan lebih cepat dan berani mengambil keputusan.

Mindset status dalam organisasi dan power memang perlu dilengserkan, karena organisasi para gamechanger ini selalu sedemikian dinamis sehingga tidak berstruktur seperti dulu. Jumlah pemimpin perlu diperbanyak, dalam arti, setiap orang perlu menyadari kewajibannya untuk meningkat beberapa kualitas, yang dulu ia sangka hanya merupakan domain pemimpin. Setiap orang perlu ambisius, dan bersikap cool terhadap perubahan, tenang tetapi bergerak. Kita juga perlu memikirkan rekrutmen orang-orang yang benar-benar senang membangun, mengajar, meng-coach bawahan dan bermental perancang.

Kita perlu bisa menjadikan orang berkualitas pemimpin dalam waktu yang pendek. Kita juga tidak bisa bertahan dengan manajemen penuh kontrol, sistem, otonomi, one man show, obsesi pada KPI, apalagi pada brand yang sudah ada. Kita perlu berkomunikasi, berbahasa, berorganisasi secara simpel, tetapi dengan gaya baru. Pergeseran mindset-nya adalah dari yang "merasa benar" menjadi sosok yang selalu siap menavigasi, berorientasi dan bertindak dalam sesaat. "Managing complexity is a battle between emergence and entropy." 

Dimuat dalam KOMPAS, 5 Desember 2015

 

 

For further information, please contact marketing@experd.com