was successfully added to your cart.

PELAYAN MASYARAKAT

PELAYAN MASYARAKAT

KETIKA orang asyik memperebutkan kekuasaan, popularitas, dan jabatan tiba-tiba ada istilah “pelayan masyarakat”, yang jelas cukup komprehensif, tetapi juga cukup asing di telinga. Istilah ini muncul justru pada saat masyarakat lebih banyak menyaksikan kemudahan dan kenyamanan yang didapat dan dinikmati para pejabat, ketimbang menunjukkan dedikasi penuh mereka.

Kita juga bisa merenungkan apa sebenarnya motif dari seorang yang menamakan dirinya pejabat, ketika mempratikkan keputusan dan tindakannya bagi masyarakat yang dipimpinnya. Konon, tunjangan yang boleh dihabiskan seorang pejabat sejumlah puluhan miliar, telah digunakan untuk memecahkan masalah yang tidak bisa ditanggung Negara.

Mengapa ada pemimpin yang bukannya dilayani malah mengorbankan hak pribadinya untuk orang lain? Mengapa ada pemimpin yang tidak memikirkan gengsi, kedudukan, birokrasi, dan segala kekuasaan yang digenggamnya dan berusaha agar kekuasaan ini jangan direbut? Ternyata dalam industri pelayanan seperti rumah sakit, penerbangan, dan perhotelan, kita memang mengenal pendekatan kepemimpinan yang berdasarkan pada moral untuk melayani. Bahkan, konon, di sekolah perhotelan ternama di Swiss, pengalaman pertama yang dialami mahasiswa barunya adalah ketika mereka didudukkan di meja makan resmi, lengkap, serta dilayani dengan cara yang sangat profesional, layaknya tamu agung. Namun, pada akhir makan malam, pimpinan fakultas memperkenalkan para pelayan, yang ternyata adalah dosen-dosen. Prosesi ini seolah sebuah ucapan selamat datang kepada para mahasiswa baru ini, dengan catatan: yang tidak bersedia melakukan pelayanan seperti yang dilakukan oleh dosen-dosen tadi dipersilakan mengundurkan diri.

Jelas di sini, warna kepemimpinan yang dominan adalah melayani sehingga tidak mungkin kita masih sibuk dengan diri sendiri. Sejak dini, telah ditanamkan bahwa melayani adalah tindakan yang keren dan profesional. Inilah sebabnya kita sering menyaksikan bahwa professional perhotelan sangat memikirkan kita, tamunya. Kita juga bisa belajar dari awak pesawat terbang, yang mengutamakan penumpang, baik dari segi keselamatan maupun kenyamanannya. Jadi, melayani orang lain, baik itu anak buah, para stakeholder, maupun masyarakat adalah bentuk kepemimpinan yang sangat mungkin sekali dilakukan. Tak terkecuali ketika kita berniat untuk menjadi pimpinan di lembaga pemerintah, di mana memang kita harus mengutamakan kepentingan rakyat terlebih dahulu ketimbang melayani kepentingan pribadi, atasan, apalagi partai.

“The selfless leader”

It’s difficult to find common ground with others when the only person you’re focused on is yourself. –john Maxwell

Bila dari masa kecil kita diajar untuk mendahulukan orang, ini adalah modal utama untuk menjadi pemimpin yang selfless. Dengan kebiasaan memberi dan mengalahkan diri sendiri, kita menumbuhkan sense of worthless dalam diri kita. Ini menyebabkan energi bisa kita tumpahkan dan fokuskan ke luar diri kita, dan bekerja. Bahkan, kita jadi bisa melupakan rasa khawatir, ragu-ragu, dan rasa tidak nyaman diri kita.

Namun, perlukah moral selfless ini dikembangkan dalam diri seorang pemimpin? Apa gunanya? Apa relvansinya bagi kita saat ini? Sesungguhnya, urgensi moral selfless ini menghasilkan dampak emosional yang nyata. Hanya dengan pendekatan inilah para follower bisa mendekatkan hati mereka dengan cepat. Para follower pun akan cepat menghilangkan keraguan untuk memberikan diri mereka, karena mereka merasa diberdayakan. Tambahan energi inilah yang bisa membuat orang bekerja keras, berproduksi, dan berprestasi.

Pemimpin yang selfless sudah pasti tidak pernah menepuk dada dan mengatakan bahwa semua hasil yang dicapai adalah jerih payahnya sendiri. Kredit, hasil, semua adalah upaya tim. Bahkan untuk dampak yang negatif sekalipun, ia tetap menunjukkan rasa tanggung jawabnya. Hal yang juga positif dari sikap selfless ini adalah bahwa diskusi timbal balik adalah sebuah keharusan. Tidak ada istilah “Pokoknya…pokoknya…” karena pada dasarnya si pemimpin sangat percaya pada sinergi kelompok dan group think. Komunikasi pun menjadi terbuka. Dengan sendirinya, kalau kita sebagai pemimpin ini membentuk budaya yang lebih segar, anggota tim akan lebih siap untuk menerimanya. Perubahan, yang saat sekarang sedang didengung-dengungkan, bisa terjadi kalau pemimpinnya berkomitmen kuat, membuka jalur komunikasi dan tidak sekadar memikirkan dirinya sendiri.

Kekuatan nilai moral

Dari pengalaman kita di hari-hari terakhir ini, kita bisa terkagum-kagum dengan kekuatan seorang pemimpin, pelayan masyarakat, yang walaupun dipersalahkan, tetap menerima, tetap memberikan respek dan tetap tegar menghadapi semua yang harus dideritanya. Dalam buku The Culture Engine, S Chris Edmonds, konsultan organisasi mengatakan bahwa servant leadership adalah landasan yang paling kuat untuk organisasi modern. Setiap orang melayani, ke segala arah, bahkan ini akan berdampak ke publik, keluarga, dan tempat kerja. Ada dua hal yang perlu dijadikan landasan berpikir pelayan masyarakat: setiap manusia mempunyai nilai dan ia berhak dimanusiakan, dipercaya, dan dihormati; dan manusia bisa berprestasi lebih bila ia terinspirasi oleh sasaran yang lebih luas dan lebih jauh daripada tujuan pribadinya.

Dengan landasan moral ini, kemampuan si pemimpin menjadi lebih besar, terutama dalam semangat, komunikasi, “mentoring”, kegigihan, dan komitmennya. Inilah praktik memimpin dengan hati yang sebenarnya.

Dimuat dalam KOMPAS, 13 May 2017

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi marketing@experd.com